Sunday, March 24, 2019

Wabup Garut Khawatir Game PUBG Lebih Disukai Daripada Buku Bacaan

Wabup Garut Khawatir Game PUBG Lebih Disukai Daripada Buku Bacaan


PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG), game yang tengah booming dengan tingkat popularitas yang terus meningkat, kini tengah menjadi sorotan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat sedang mempertimbangkan mengkaji fatwa haram terkait game bergenre battle royale tersebut.

Hal itu didasari oleh terjadinya aksi teror penembakan sadis di Selandia Baru yang menewaskan 50 orang beberapa waktu lalu. Sejalan dengan MUI Jabar, MUI Pusat pun menyatakan siap untuk melakukan kajian terhadap game PUBG. "Fatwa adalah jawaban hukum Islam dalam upaya memberikan solusi atas permasalahan yang muncul di masyarakat, pertimbangannya komprehensif," kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh.

Menurut Rahmat, pihaknya tidak bisa langsung mengeluarkan fatwa tanpa adanya kajian mendalam. Jika langsung diterbitkan fatwa, Rahmat mengungkapkan, masyarakat akan mempertanyakan tentang hal yang dilarang. Untuk itu, pihaknya perlu melakukan kajian secara komprehensif perihal MUI Jabar haramkan PUBG.

Di negeri seberang, India, bahkan telah lebih dulu menerapkan larangan PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG), karena dinilai mengandung aksi kekerasan serta berpengaruh bagi anak muda. Kepolisian di wilayah tersebut mengancam hukuman penjara bagi yang kedapatan bermain game tersebut.

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman mengaku prihatin dan khawatir dengan perkembangan teknologi komunikasi terutama telepon seluler (ponsel), smartphone atau gadget dan sejenisnya.

Pasalnya, berdasarkan data terahir kepemilikan ponsel di Indonesia sudah mencapai 300 jutaan. Dari jumlah itu sebanyak 44 persennya digunakan untuk bermain game. “Begitu pun di Garut kondisinya tidak akan jauh berbeda. Bahkan kemungkinan lebih banyak jumlah HP-nya dari pada jumlah penduduknya. Kami mengimbau kepada para orang tua untuk selalu memperhatikan anak kita agar tidak terbiasa menggunakan HP. Kalau bisa arahkan anak untuk rajin membaca buku,” kata Helmi di Gedung Islamic Center Garut, Jumat (22/3/2019). Helmi mengatakan pada masa lalu beraktivitas di perpustakaan bagi seorang anak cenderung sulit. Namun dengan adanya perpustakaan berbasis inklusi sosial, kesempatan untuk membaca sangat terbuka.

Perpustakaan Garut bisa menjadi tempat kegiatan diskusi dan praktek sehingga minat baca akan meningkat. Oleh karena itu aktivitas kita pun akan meningkat sekaligus diharapkan minat baca juga akan meningkat,” katanya.

Meski begitu, Helmi mengakui, Perpustakaan Garut masih minim sarana dan buku bacaan. “Alhamdulillah minat baca masyarakat Garut berada di urutan ketiga se-Jawa Barat. Memang saya akui sarana kita masih kurang, tapi paling tidak, kita sudah melakukan hal-hal terbaik diantaranya kita telah memiliki gedung yang bagus, gedung tiga tingkat, gedung yang meyakinkan semua orang. Ini gedung bisa menampung sekitar 200 orang,” kata Helmi.

Oleh karena itu, lanjut Helmi, Pemkab Garut terus berupaya melengkapi perpustakaan dengan buku-buku baru yang berkualitas. Terlebih,saat ini Perpustakaan Garut hanya memiliki sekitar 26 ribu eksemplar buku.

Helmi juga mengaku senang karena saat ini tersebar banyak perpustakaan di desa-desa yang didirikan masyarakat. Terbaru, kata dia, ada tiga perpustakaan di tiga desa yang memperoleh bantuan buku bacaan dari pemerintah pusat.



#PUBG #Bupati #WakilBupati #Garut 


EmoticonEmoticon